Ini Pemicu Pesepak Bola Belia Indonesia Berbakat Sering Layu Sebelum Bertumbuh

Posted on
Pemain Tim nasional Indonesia U-19, Sutan Zico serta Beckham Putra, waktu mengadakan session latihan di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Senin (13/1/2020). Sekitar 51 pemain ikuti seleksi untuk menguatkan scuad penting Tim nasional Indonesia U-19. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

 

Jakarta – Joko Susilo memaparkan analisisnya masalah jumlahnya bakat yang cemerlang di umur muda, tetapi melembek saat telah jadi pemain profesional serta ujungnya terpental di level Tim nasional Indonesia senior. Pelatih berlisensi AFC Pro yang sekarang menggarap Persik Kediri ini menyebutkan ada beberapa unsur yang membuat hal itu berlangsung.

Menurut dia, dalam pendidikan sepak bola ada faktor sport for development (peningkatan olahraga), kecuali faktor sepak bola untuk prestasi. Ke-2 ini, menurut pendiri Rumah Bola ini, sama-sama terikat.

“Untuk jadikan pesepak bola yang baik, pendidikan sport for development adalah hal mutlak, ” papar Joko

“Sport for development ini mencakup pendidikan ciri-ciri, sikap, serta mental, ” dia memberikan tambahan.

Joko menyebutkan, seperti membuat gedung yang kuat, untuk membuat pesepak bola yang bagus juga dibutuhkan fondasi yang kuat. Tetapi, menurut pelatih berumur 49 tahun itu, fondasi kuat bukan salah satu unsur dalam membuat pesepak bola yang bagus.

“Diperjalanan juga penting. Fondasi yang tidak kuat membuat gedung mudah roboh. Tetapi, proses sesudah membuat fondasi ini juga penting, ” papar Joko Susilo.

“Dalam kerangka sepak bola, perjalanan ini terdapat beberapa hal yang punya pengaruh termasuk juga psikologi serta fisiknya, ” papar pelatih yang sering dipanggil dengan panggilan dekat Getuk itu.

Memberikan Banyak Evaluasi

 

Selanjutnya, Joko akui rintangan paling besar dalam mengentaskan bakat muda ialah diperjalanan mereka ke arah profesional. Bekas Asisten pelatih Tim nasional Indonesia ini menyebutkan jika fondasi yang salah masih dapat dibenahi.

“Pemain ini kan makhluk hidup. Selama perjalanan, kita dapat mengatur fondasi yang mereka punya, ” papar Joko.

“Sesaat, beberapa dari bakat muda kita yang bagus di grassroot tetapi hilang saat ke arah profesional, ” dia memberikan tambahan.

Salah satunya hal yang benar-benar penting diperjalanan ini, menurut Joko, ialah ikut serta club. Masalahnya club lah yang mempunyai peranan untuk membina pemain profesional.

“Pemain yang kembali pada club banyak yang hilang. Bermakna, club harus juga turut bertanggungjawab, ” pungkas Pelatih Persik Kediri ini.

Narasi pesepak bola Indonesia layu sebelum bertumbuh bukan bualan. Beberapa pemain yang berjaya waktu bela Tim nasional Indonesia junior waktu naik level ke senior tiba-tiba kehilangan taji. Mereka serta pernah dicap wonderkid, yang ujungnya bermain di tim-tim semenjana atau serta pensiun awal.

Apa yang berlangsung pada beberapa pemain, seperti: Syamsir Alam, Reffa Money, Oktovianus Maniani, Maldini Pali serta banyak yang lain dapat jadi evaluasi.

Tim nasional Indonesia di akhir tahun ini akan bertanding di Piala AFF 2020. Akan beberapa pemain belia terjebak dalam scuad bimbingan Shin Tae-yong. Dapatkah mereka sukses disana? Waktu yang menjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *